Header Ads

Torang Samua Ciptaan Tuhan Menciptakan Persatuan dan Kerukunan Dari Sulut Untuk Indonesia

Suasana Pelaksanaan Sosialisasi Piala Presiden di Hotel Arya Duta, Manado
JurnalManado - Kata "Persatuan" telah ada sejak Negara Republik Indonesia merdeka. Bahkan implementasi persatuan telah dibuktikan dengan perjuangan para pejuang untuk memerdekakan Bangsa Indonesia. Seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke bersatu melawan penjajah untuk merebut kemerdekaan. Ini bukti kongkrit dimana persatuan merupakan modal utama bangsa. Pemaknaan kata persatuan yang berasal dari kata satu yang berarti utuh dan tidak terpecah-belah. Arti lebih luasnya yaitu berkumpulnya macam-macam corak dari berbagai kalangan,ras,budaya, dan adat istiadat dalam masyarakat yang bersatu dengan serasi. Jikapun dilihat dari sisi manusianya maka sangat jelas antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya saling membutuhkan karena hakekatnya manusia itu mahluk sosial yang saling ketergantungan. Manusia jelas tidak mampu memenuhi segala kebutuhannya sendiri, untuk itu sesama manusia hendaknya saling rukun agar bisa melengkapi satu sama lain.
Kerukunan tersebut bisa tercermin dari kekompakan sesama manusia dalam menjaga persatuan dan kesatuan dalam berbagai aspek.

Ini yang terpenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Indonesia memiliki pedoman hidup dan landasan hidup dalam kehidupan sehingga mengikat kita dalam bingkai persatuan.

Meski demikian, dalam perjalanan kehidupan yang semakin maju dengan teknologi yang semakin meng"gila", terlalu mudah bagi individu - individu memicu persoalan lewat teknologi atau kita kenal dengan Media Sosial.

Sepertinya istilah "Dunia Dalam Genggaman" menjadi sebuah pembenaran karena begitu dasyatnya manusia memainkan peranannya sehingga informasi begitu cepat bahkan hitungan detik dapat di ketahui. Informasi daerah lain ke daerah lain mudah saja bahkan membuat penerima informasi seperti orang "gila" yang kadang tersenyum, tertawa, sedih bahkan sampai membangkitkan emosi.

Harus diakui plus minus kemajuan teknologi bahwa sisi baiknya informasi yang bermanfaat dapat diketahui dengan cepat dan mampu merubah serta menjadi contoh yang baik, sementara minusnya, mampu menyulut pertikaian antar sesama.

Pada kesempatan ini, penulis tidak sedang menggurui atau menceramahi tentang persatuan tapi hanya berbagi pemikiran bagaimana mempertahankan persatuan yang menghasilkan kerukunan bangsa. 
Dewasa ini Indonesia mudah disulut dan menyulut sehingga keberagaman dan persatuan yang kita sanjung - sanjung hampir punah dimakan zaman.

Yang sangat berbahaya adalah persoalan agama yang selalu dipolitisir yang akhirnya menghancurkan persatuan. Salah satu contoh pertikaian di Maluku dan Poso. Kita akhirnya memakai istilah menang jadi abu kalah jadi arang. 

Saling hujat lewat medsos karena persoalan politik dimana banyak warga yang tergerus dengan kepentingan - kepentingan individu atau orang atau kelompok yang dianggap sebagai tokoh yang berebut kekuasaan. Berita dan informasi yang menyesatkan atau hoax dan kembali lagi masalah antara si miskin dan kaya sehingga terlontar kata "Kesejahteraan mempererat Perbedaan dan Kemiskinan Memperluas Perbedaan". Dugaan ini muncul karena katanya sangat terpampang jelas perbedaan ketimpangan pembangunan di pulau sono dan di pulau sini.

PR ini akhirnya harus membuat Pemerintah putar otak. Ditangan Presiden Jokowi - Wakil Presiden Jusuf Kala dalam poin ketiga dari Nawacita menebalkan prase “membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam rangka negara kesatuan”.

Pembangunan tidak lagi terpusat di perkotaan (Sentralisasi), melainkan harus dilakukan menyebar di seluruh pelosok Indonesia (Desentralisasi).

Setiap daerah tidak harus sama dalam melaksanakan pembangunan, perbedaan dalam pembangunan memang perlu dilakukan, demi mengakomodir karakteristik dan kemampuan masing-masing wilayah.

Membangun daerah pinggiran, bukan saja terkait kewilayahan atau geografis daerah daerah yang berdekatan dengan perbatasan negara tetangga, tetapi juga soal manusia yang terpinggirkan dan kurang mampu secara ekonomi. Pinggiran juga menunjukan kondisi masih minimnya pembangunan di wilayah tersebut. 
Untuk mendukung peningkatan pembangunan fisik di daerah, Pemerintahan Jokowi meningkatan anggaran transfer ke daerah dan dana desa dari tahun ke tahun. Peningkatan alokasi dana desa secara bertahap ini, sekaligus untuk memenuhi amanat UU Nomor 6 Tahun 2017 tentang Desa.

Meski demikian, timbul pertanyaan lagi apakah persoalan persatuan sudah selesai?, ternyata belum sepenuhnya. Malah konflik demi konflik timbul dan terpampang jelas dimata kita seperti yang terjadi di papua.

Rasisme, kesenjangan, adudomba dan hoax menyatu dan membentur -  benturkan antar golongan, suku. 

Sulawesi Utara (Sulut) dengan jumlah penduduk 2.461.028 Jiwa, faktanya hingga saat ini tidak terpengaruh dengan semua yang menyesatkan. 

Tradisi torang deng torang (sesama kita) sangat kental bahkan mendarah daging, sehingga satu sama lain seakan tidak ada jarak pemisah atau perbedaan.

Apalagi perbedaan agama di sulut nyata bukan suatu persoalan karena Lakum Dinukum Walyadin tetap berlaku hanya saja kesadaran saling menghormati dan kesadaran toleransi sangat tinggi sehingga dalam beribadah masing - masing golongan merasa nyaman. Pasalnya, jika muslim melakukan ibadah maka yang menjaga keamanan adalah saudara - saudara dari kristen dan itu berlaku sebaliknya. Jikapun ada kegiatan keagamaan pastinya ada perwakilan dari masing - masing agama. Penerapan kesadaran "Torang Samua Basudara" (Kita Semua Bersaudara) melekat erat dihati kita masing - masing sehingga mengikis perbedaan agama, suku dan golongan.
Satu hal yang menjadi karakteristik orang daerah juga gayanya cuek. Jarang mau terpengaruh dengan isu - isu dari luar terutama konflik yang berbau sara, radikalsime. Mereka lebih memikirkan kehidupan mereka, dari pada persoalan yang memecah belah bangsa.

Perbedaan pendapatan atau si miskin dan si kaya pun tidak serta merta membuat jarak, sebab kehidupan di sulut "baku minta" (tolong menolong). Semisal ditetangga masak dan ditetangga sebelah kekurangan maka tetangga yang kekurangan pasti diantar makanan atau bisa juga yang tetangga kekurangan makan ditetangga yang masak. Atau apabila ada salah satu bumbu masak yang tidak ada atau kekurangan biasanya minta ditetangga sebelah. Tradisi kerja bersama - sama juga atau istilah gotong royong masih sangat kental dilakukan hingga makan bersama beralaskan daun pisang. Bahkan faktanya pula kalau soal makan orang sulut jagoannya, sudah makannya banyak sambil keringatan juga. Seharusnya bekerja yang berkeringat tapi disulut bekerja dan makan sama - sama berkeringat hahahaaaa. Bicara makan teringat saat kegiatan Sosialisasi Piala Presiden yang dilaksanakan di Manado Ibukota Provinsi Sulut, dimana asiknya berdiskusi tak taunya jam sudah menunjukkan pukul 12.30 Wita, artinya orang manado saat itu sudah kelaparan, akhirnya konsentrasi buyar. Saya yang duduk di dekat pintu usai memberikan tanggapan atau pemikiran tentang persatuan dan kondisi di sulut, melihat Pak Bagir Manan berdiri dari kursi dan keluar sambil menghampiri meja saya dan berkata "Bagaimana ada persatuan kalau perut kosong". dan langsung meninggalkan ruangan (izin juga). Akupun tersenyum dan mencerna perkataan mantan Ketua MA dan Ketum Dewan Pers itu. "Ya, itu kata kuncinya, bukan antara sikaya dan miskin tapi bagaimana perut terisi sehingga segala - galanya berjalan normal. Bersukur sulut tidak pernah kelaparan.

Ini hal - hal yang kecil tapi efeknya sangat besar dirasakan oleh warga sulut.

Para pendatang (Orang asal daerah yang lain tinggal dan menetap) yang tinggal di sulut juga selalu nyaman karena sulut selalu tersenyum, tidak pernah memandang tamu itu sebagai orang lain. Sebaliknya, orang sulut cepat mengakrabkan diri sehingga tamu merasa bukan tamu disulut. Mereka bebas saja melakukan aktivitas selagi itu tidak mengganggu ataupun merusak tatanan di sulut. 

Turis pun berbondong - bondong ke sulut karena strategi dari Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw untuk jadikan sulut sebagai daerah pariwisata yang kata presiden sulut rising star pariwisata. Hal ini dilakukan karena sudah dengan kajian yang matang dan yang paling utamanya adalah daerah itu aman, nyaman dan kondusif. (Orang manado murah senyum lho, bukan karena berduit atau tidak)

Slogan yang digaungkan oleh ODSK (sebutan gubernur dan wagub), "Torang Samua Ciptaan Tuhan" sangat melekat dan terpatri di lubuk hati warga sulut. Filosofinya adalah siapapun dan dari agama manapun kita satu dimata sang pencipta. Lakukan kebaikan karena itu kehendak Tuhan.
"Berdamailah dengan Tuhan, Berdamailah Dengan Diri Kita, Berdamailah Dengan Sesama dan Berdamailah Dengan Alam," pesan Gubernur Olly Dondokambey.
Hal ini menjadi modal bagi daerah untuk tetap menjaga persatuan yang menuju pada kerukunan bukan saja di daerah tapi berbangsa. 
Salam persatuan dari sulut untuk indonesia jayalah negeriku...!

Penulis : Raden Suratman
Powered by Blogger.