Pengprov Pertina Sulut Sampaikan Duka Cita Meninggalnya Boy Kelung


Jurnal Manado  - Mantan petinju nasional berdarah Kawanua Boy Kelung meninggal dunia di Manado, Sabtu, (19/12/2020) pukul 20.15 Wita.  


Informasi kepergian petinju kebanggaan sulut ini diterima dari Komunikasi Teknis Pengprov Pertina Sulut, Bonyx Saweho.


"Boy meninggal setelah berbulan-bulan menderita sakit. Awalnya mengalami tabrakan sepeda motor di Bitung. Tak sembuh-sembuh, Boy mengalami struk," ujar Bonix.



Pengprov Pertina Sulut melalui Ketua AKBP Reino Bangkang menyampaikan duka cita yang mendalam. 


Coach Boy kelung dinilai sudah banyak berbuat untuk keharuman dan kejayaan bangsa negara Indonesia khususnya di bidang olah raga Tinju.


Almarhum semasa hidup sudah curahkan tenaga waktu sebagian hidupnya untuk kemajuan baik Tinju amatir maupun profesional.


"Di akhir-akhir hidup juga beliau sering datang komunikasi di pengprov Pertina Sulut dalam memberikan masukan-masukan saat melihat anak-anak Latihan tinju di koni Sario. Kami merasa kehilangan atas berpulangnya salah satu legenda Tinju Nasional yang berasal dari Sulut," ujar Reino Bangkang.


Boy Kelung adalah petinju amatir dan profesional dari Benteng AMI-ASMI Boxing Camp Jakarta.


Semasa hidupnya, Almarhum pernah sebagai Petinju amatir kelas bantam, Petinju profesional kelas bulu yunior, Pelatih amatir di Pertina DKI Jakarta, Pelatih tinju profesional. Terakhir ia menjadi Promotor tinju.


Di tinju pro, Boy kelung sempat terikat kontrak untuk kejuaraan Indonesia kelas bulu yunior melawan Nurhuda (Javanoea Malang) di Senayan dengan promotor Tinton Soeprapto 1987, melawan Robby Rahangmetan (Pirih Boxing Camp Surabaya) di Stadion Singaperbangsa Karawang dengan promotor Indragiri 1989, melawan Monod Arema Malang di Stadion 17 Mei Banjarmasin dengan promotor Eddy Rumpoko 1989. Boy Kelung gagal memenangkan partai kejuaraan Indonesia.


Di tinju pro, Boy Kelung dikenal sebagai fighter sejati. Penampilannya selalu memuaskan penonton. Pukulan kananya cukup keras, tetapi dia tidak memiliki dagu yang kuat. Dalam tinju pro, Boy dikenal sebagai seorang dagu kaca.


Setelah menggantungkan sarung tinju, Boy Kelung meneruskan karir kepelatihan. Dia tercatat sebagai pelatih Pertina DKI Jakarta. Beberapa petinju amatir yang ditangani Boy Kelung mencatat sukses merebut gelar juara nasional.


Menjelang tahun 2000 ketika tinju pro Indonesia laris manis bagai kacang goreng di berbagai tayangan televisi, Boy Kelung menjadi pelatih tinju profesional. 


Ia menangani Juharum Silaban dan Juan Saparipan, yang berhasil diantarnya menjadi juara Indonesia. Ketika itu, Boy terikat kontrak panjang dengan Batam View Boxing Camp. Boy hidup selama beberapa tahun di Pulau Batam, Provinsi Kapulauan Riau.


Ketika Indonesia menyelenggarakan Asian Games XVIII/2018, Boy Kelung hampir setiap hari singgah ke arena pertandingan. 


Dengan senyum khas penuh persahaban, Boy Kelung menyapa rekan-rekannya para mantan petinju. 


Perjalanan di dunia tinju:


Tahun 1980: Boy Kelung mulai belajar tinju di Panther Boxing Camp Manado, bersama pelatih almarhum Jootje Mada.


Tahun 1984: Boy Kelung mulai bergabung dengan sasana tinju terkenal ketika itu di Jakarta, yaitu Benteng AMI/ASMI Pulomas, Jakarta Timur. Sasana Benteng milik almarhum Benny Tengker.


Di amatir, Boy bertanding di kelas bantam dan harus bersaing ketat dengan sejumlah petinju top kelas bantam lainnya yang ada di Benteng AMI/ASMI. Boy sempat mengikuti pertandingan di Bitung, Jakarta, dan kota lainnya.


Pada tahun 1986 Boy Kelung memilih tinju pro. Ia bertanding di kelas bulu yunior. Boy ditangani pelatih Chris Rotinsulu.(*tam)

Diberdayakan oleh Blogger.