Iklan

February 13, 2026, 20:04 WIB
Last Updated 2026-02-14T04:04:30Z
DinamikaManadoPemerintahanUtama

Peringati Hari Merah Putih ke - 80,Gubernur Katakan Musuh Terberat Kemiskinan


Jurnal Manado - Peringatan Hari Merah Putih ke - 80 sangat berarti bagi bangsa Indonesia khususnya Sulawesi Utara. Hari ini kita berdiri di bawah langit Manado untuk menghormati lembaran sejarah yang agung. Angka 80 tahun adalah simbol ketangguhan dan bukti bahwa semangat kemerdekaan tidak pernah padam di Bumi Nyiur Melambai. Delapan puluh tahun silam, Tangsi Militer Teling menjadi pusat ledakan perlawanan yang heroik. Peristiwa itu meruntuhkan kesombongan penjajah sekaligus menegaskan kedaulatan bangsa di ujung Utara Sulawesi. Hal itu disampaikan Gubernur Sulut Yulius Selvanus saat memberikan sambutan pada Peringatan Merah Putih di Lapangan Koni Manado, Sabtu (14/02/2026). 

Pelaksanaan Upacara buka sekedar melaksanakan upacara semata, melainkan upaya menegakkan punggung, mengangkat dada dengan bangga, dan menjemput kembali api perjuangan para pahlawan kita. 

"Saya bangga melihat barisan TNI, Polri, ASN, atlet, hingga pelajar; ini bukti bahwa darah patriotisme masih mengalir kental di nadi setiap anak bangsa di Sulawesi Utara," ujarnya. 


Dijelaskan Gubernur, Peringatan Peristiwa Merah Putih tahun 2026 dilaksanakan dengan napas berbeda. Kita ingin dunia diingatkan bahwa kedaulatan Republik ini pernah dipertaruhkan dan dimenangkan dengan gemilang di tanah ini. Kita mengenang kembali keberanian Letkol Charles Choesj Taulu, Sersan Servius Dumais Wuisan, Kopral Mambi Runtukahu, dan Bernard Wilhelm Lapian.Mereka menjawab provokasi NICA dengan tindakan nyata: menyerbu markas musuh, menurunkan bendera penjajah, merobek warna birunya, dan mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Inilah proklamasi kedua bagi masyarakat Sulawesi Utara, yang menjadi fondasi tema besar kita: "Bhakti Kami Demi Pertiwi, dari Sulut untuk Nusantara". Kalimat ini adalah janji setia bahwa Sulawesi Utara akan selalu menjadi garda terdepan menjaga keutuhan NKRI.Oleh karena itu, rangkaian kegiatan tahun ini kita perluas. Merah Putih Panahan Sulut Open digelar sebagai simbol bahwa generasi kita harus memiliki presisi dan fokus dalam membidik masa depan. Drama Kolosal dihadirkan agar kita merasakan getaran pengorbanan pejuang. Disisi lain, pembagian bunga dan cokelat menjadi pesan bahwa perjuangan kita hari ini berlandaskan cinta kepada tanah air dan sesama.

Menghargai pejuang berarti menghidupkan karakter mereka para pejuang dalam diri kita. "Melalui momentum ini, Saya instruksikan tiga hal penting yakni Perkuat Literasi Sejarah. Kita harus menjadi bangsa yang cerdas akan akarnya, agar tidak mudah tumbang oleh arus global dan Perkokoh Sinergi. Tidak ada tempat bagi ego sektoral. Pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat harus padu membangun Sulawesi Utara yang maju dan sejahtera serta Transformasi Semangat Juang. 

"Musuh kita hari ini adalah kemiskinan dan perpecahan. Kita harus memiliki semangat pantang menyerah untuk memenangkan persaingan di dunia modern, " pungkasnya. 

(postman)