Iklan

March 23, 2026, 00:15 WIB
Last Updated 2026-03-23T07:26:12Z
DinamikaInternasionalNasionalPendidikanUtama

Al-Aqsa: Jejak Damai Umar hingga Simbol Perlawanan Abadi


YERUSALEM
– Di balik tembok batu tua yang melingkari Kota Suci Yerusalem, tersimpan fragmen sejarah yang telah mengubah wajah peradaban dunia. Kompleks Al-Aqsa bukan sekadar tumpukan batu dan kubah emas; ia adalah saksi bisu dari pertemuan antara pedang, sujud, dan diplomasi kemanusiaan yang paling tua di muka bumi.

Cahaya dari Gurun
Diplomasi Tanpa Darah Tahun 637 Masehi mencatat sebuah anomali dalam sejarah penaklukan dunia. Ketika pasukan Muslim di bawah komando Abu Ubaidah bin Jarrah mengepung Yerusalem pasca-pertempuran Yarmuk, penduduk kota yang kelelahan bersiap menghadapi skenario terburuk, pembantaian.

Namun, sejarah menuliskan bab yang berbeda. Patriark Sophronius, pemimpin Kristen saat itu, mengajukan syarat unik yakni ia hanya akan menyerahkan kunci kota kepada sang Khalifah sendiri, Umar bin Khattab. 

Umar datang tidak dengan kereta kencana atau ribuan pengawal pribadi. Ia menempuh perjalanan jauh dari Madinah hanya dengan satu pelayan dan satu unta. 

Begitu sederhananya Umar, hingga ia tiba di gerbang kota dalam posisi menuntun unta karena sedang giliran pelayannya yang naik.
 
Momen inilah yang melahirkan Al-Uhdah al-Umariyyah (Jaminan Umar). Sebuah pakta yang menjamin keamanan nyawa, harta, dan gereja. 

Umar bahkan menolak tawaran shalat di dalam Gereja Makam Kudus, khawatir kelak pengikutnya akan mengubah gereja itu menjadi masjid—sebuah tindakan visioner yang menjaga harmoni lintas iman hingga hari ini. 

Dari Reruntuhan Menuju Kejayaan
Setibanya di pelataran Baitul Maqdis, Umar mendapati situs suci itu dalam kondisi memprihatinkan, dipenuhi tumpukan sampah sisa pengabaian kekaisaran sebelumnya. Tanpa ragu, sang Khalifah membersihkan kotoran tersebut dengan jubahnya sendiri, sebuah simbol pemuliaan kembali tanah para nabi.
Yerusalem menikmati masa tenang selama berabad-abad di bawah naungan dinasti-dinasti Islam, hingga badai besar datang dari Barat pada tahun 1099 M. Perang Salib I mengubah Al-Aqsa menjadi saksi tragedi berdarah, di mana fungsi masjid berubah menjadi istana dan markas militer.

Luka itu baru terbasuh hampir seratus tahun kemudian ketika Shalahuddin Al-Ayyubi muncul. Membawa semangat ksatria, Shalahuddin merebut kembali kota itu pada 1187 M dengan cara yang mengingatkan dunia pada toleransi Umar: memberikan pengampunan dan perlindungan bagi mereka yang kalah.

Titik Saraf Dunia: Mengapa Tak Pernah Padam?
Kini, di abad ke-21, Al-Aqsa tetap menjadi "titik saraf" geopolitik global. Mengapa tanah seluas 14 hektar ini begitu diperebutkan?

Bagi umat Islam, ini adalah kiblat pertama dan tempat keberangkatan Rasulullah dalam peristiwa Isra Mikraj. 

Bagi umat Yahudi, ia adalah Temple Mount, situs Bait Suci kuno yang menjadi pusat spiritualitas mereka. 

Bagi umat Kristen, setiap sudut kota ini adalah jejak kaki Yesus (Nabi Isa) dalam menyebarkan risalahnya.

Namun, di balik dimensi teologis, Al-Aqsa telah berevolusi menjadi simbol kedaulatan. Bagi bangsa Palestina, Al-Aqsa adalah jantung identitas nasional mereka yang tak boleh berhenti berdenyut. Setiap gesekan di gerbangnya—baik itu pembatasan akses maupun upaya mengubah status quo—akan selalu memicu riak yang getarannya terasa hingga ke seluruh penjuru dunia.


Sejarah panjang Al-Aqsa mengajarkan kita satu hal: di tanah ini, kedamaian hanya bisa tegak jika ada rasa hormat yang mendalam terhadap yang suci, sebagaimana yang ditunjukkan Umar bin Khattab di bawah gerbang Yerusalem empat belas abad yang lalu.

(postman)