JurnalManado - Sesuai data dan informasi yang diterima wartawan, di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Utara (Sulut) menyebutkan, kondisi pendidikan di lingkungan sekolah dibawah naungan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) saat ini memerlukan penanganan serius akibat rendahnya capaian mutu siswa.
Hal ini disampaikan, Kepala BPMP Sulawesi Utara (Sulut) Febry HJ Dien ST M.Inf.Tech (MAN). Ia mengungkapkan, bahwa penilaian tersebut didasarkan pada capaian Rapor Pendidikan di berbagai jenjang sekolah GMIM, mulai dari tingkat SD hingga SLB, yang menunjukkan hasil di bawah standar kompetensi minimum.
”Pendidikan di sekolah GMIM saat ini butuh penanganan serius,” tegas Febry Dien, diruang kerjanya, Rabu (6/5/2026).
Dien begitu disapanya mengatakan, Berdasarkan data yang dihimpun, indikator kemampuan literasi menjadi rapor merah yang paling menonjol.
“Dari total sekolah yang dievaluasi, sebanyak 349 satuan pendidikan tercatat belum mencapai kompetensi minimum,”ungkapnya.
Selanjutnya, kondisi paling memprihatinkan ditemukan pada jenjang Sekolah Dasar (SD).
“Dari total populasi sekolah dasar di bawah GMIM, sebanyak 283 sekolah atau sekitar 81 persen belum mampu memenuhi standar literasi yang ditetapkan,”tuturnya.
Dijelaskannya, secara terperinci, capaian literasi pada jenjang lain juga menunjukkan tantangan besar:
• SMP: 31 sekolah kategori Baik, 45 sekolah Belum Mencapai Kompetensi Minimum.
• SMA: 4 sekolah kategori Baik, 14 sekolah Belum Mencapai Kompetensi Minimum.
• SMK: 1 sekolah kategori Baik, 7 sekolah Belum Mencapai Kompetensi Minimum.
• SLB: 1 sekolah kategori Baik, sedangkan 11 sekolah lainnya belum tersedia datanya.
Krisis Numerasi dan Data Perencanaan
Tak hanya literasi, indikator kemampuan numerasi juga menunjukkan tren yang serupa.
“Tercatat sebanyak 374 sekolah di lingkungan GMIM belum mencapai kompetensi minimum dalam aspek numerasi,”ucapnya.
Lagi-lagi, jenjang SD mendominasi angka rendah tersebut dengan 300 sekolah (80 persen) yang masuk kategori di bawah standar minimum. Hanya 66 SD yang tercatat memiliki capaian baik dalam hal numerasi.
”Rendahnya capaian ini memerlukan perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan di yayasan tersebut,” tambah Febry.
Selain persoalan kompetensi, BPMP juga menyoroti adanya 35 satuan pendidikan yang hingga kini belum memiliki capaian Rapor Pendidikan.
Ditambahkannya, ketiadaan data ini dianggap krusial karena akan berdampak langsung pada proses perencanaan strategis satuan pendidikan untuk satu tahun ke depan.
“Tanpa indikator yang jelas dalam Rapor Pendidikan, sekolah-sekolah tersebut dikhawatirkan tidak memiliki pijakan yang kuat dalam menyusun program peningkatan mutu siswa maupun alokasi anggaran pendidikan yang tepat sasaran,”kuncinya.(tl)
