Jurnal Sport - Ada satu hukum besi yang sangat ironis dalam sejarah olahraga.Yaitu ketika seorang raja berhasil menaklukkan seluruh dunia, namun takdir mengharamkannya untuk memakai mahkota paling suci.
Tragedi nyata ini menimpa ganda putra paling fenomenal yang pernah dilahirkan bumi Nusantara, Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon (The Minions).
Mei 2024 menjadi hari berkabung nasional bagi jagat bulutangkis. Kevin resmi menyusul Marcus untuk gantung raket. Pengumuman itu menyisakan satu pertanyaan besar yang belum terjawab hingga hari ini.
Bagaimana mungkin sepasang "Monster" yang merajai peringkat 1 dunia selama 214 minggu berturut-turut bisa hancur seketika di panggung tertinggi?
Dua Lubang Menganga di CV Sang Legenda
Di atas kertas, prestasi mereka adalah kegilaan murni. Dua kali juara All England, emas Asian Games, hingga belasan trofi Superseries BWF sukses mereka babat habis.
Namun, lihatlah lembar curriculum vitae mereka. Ada dua lubang hitam yang menganga lebar: Medali Olimpiade dan Gelar Juara Dunia.
"Saya bersyukur dengan semua pencapaian kami, walaupun kami belum berhasil mendapatkan medali Olimpiade dan World Championship," tulis Kevin dalam pesan perpisahannya.
Sebuah pengakuan jujur yang terasa sangat getir.Bagaimana bisa ganda putra yang biasa membantai lawan dengan senyuman meremehkan dan gaya "tengil" ini tiba-tiba mengalami "korslet" massal saat mencium aroma Kejuaraan Dunia?Apakah ini murni karena takdir yang kejam? Atau ada sains psikologis di baliknya?
"Hantu" yang Mencekik Leher di Swiss dan Tokyo
Sang pelatih, Aryono Miranat, akhirnya membongkar "Kutukan Raksasa" ini. Jawabannya hanya satu kata: Beban.
Logika Superseries: Mereka main lepas. Menang sudah jadi rutinitas.
Logika Kejuaraan Dunia: Mereka tercekik oleh tuntutan “Harus Juara”.
Puncaknya terjadi pada Kejuaraan Dunia 2019 di Swiss. Dunia terguncang. Sang Monster Dunia secara tidak masuk akal langsung tersingkir di babak pertama!
Lalu datanglah Olimpiade Tokyo, di mana takdir bermain dengan sangat brutal.
Awalnya, Olimpiade dijadwalkan tahun 2020. Saat itu, The Minions sedang berada di puncak performa paling gila (top form).
"Kalau saja Olimpiade tidak diundur, ceritanya mungkin akan berbeda," sesal Coach Aryono.
Pandemi menyerang. Olimpiade ditunda setahun. Ritme latihan rusak.
Saat mereka menginjakkan kaki di Tokyo, "Hantu Ekspektasi" dari 270 juta rakyat Indonesia langsung melompat ke pundak mereka. Hasilnya? Mereka hancur di perempat final oleh ganda Malaysia, Aaron/Soh, lawan yang dalam turnamen biasa selalu menjadi samsak dan bulan-bulanan The Minions.
Akhir Babak Sang Raja: Penyesalan atau Kedamaian?
Lantas, apakah mereka pensiun dengan hati yang hancur dan penuh dendam pada takdir?Di sinilah letak kebesaran hati seorang legenda. Marcus Gideon merespons kenyataan pahit ini dengan sebuah senyuman teduh.
"Dulu mimpi saya cuma satu: Ingin jadi Nomor Satu Dunia. Saya sudah sangat puas dan nggak ada penyesalan sama sekali. Saya happy dengan apa yang sudah saya raih. Nggak ada pikiran 'Kepingin banget harus Olimpiade'. Saya sampai sini aja udah seneng banget," ucap pria yang akrab disapa Koh Sinyo.
The Minions mungkin telah berjalan menjauh dari lapangan sebagai "Raja Tanpa Mahkota Olimpiade".
Namun mari kita jujur pada sejarah: Tanpa dua gelar itu pun, cara mereka mengacak-acak, merevolusi, dan menghibur dunia lewat bulutangkis sudah lebih dari cukup untuk mengunci nama mereka di dalam daftar Legenda Abadi.
(*jmg)