Iklan

18 Oktober 2026, 19:12 WIB
Last Updated 2026-10-19T02:12:23Z
DinamikaManadoPendidikanUtama

Duka dan Bahagia di Depan Keranda: Kisah Faiz Turuis Menikah di Hadapan Jenazah Sang Ayah


Jurnal Manado
- Takdir sering kali mempertemukan dua rasa yang paling ekstrem dalam satu detak waktu yang sama. Hal inilah yang harus dihadapi oleh Faiz Turuis, putra semata wayang dari tokoh masyarakat Sulawesi Utara, Almarhum Hi. Mahmud Turuis, SE. Momen yang seharusnya dipenuhi tawa dan perayaan megah, berubah menjadi salah satu ujian ketabahan paling berat saat akad nikah harus dilangsungkan di hadapan jenazah sang ayah yang telah terbujur kaku.

Pernikahan Faiz dan kekasihnya, Kiki, sebenarnya telah direncanakan jauh-jauh hari sebagai hari paling membahagiakan bagi keluarga besar mereka. Namun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Kematian mendadak sang ayah memaksa keluarga mengambil keputusan besar: ijab kabul harus tetap berjalan sesuai jadwal dan tidak boleh ditunda, meski di dalam suasana berkabung.


Air Mata di Samping Jasad Sang Panutan


Suasana khidmat yang bercampur isak tangis menyelimuti ruangan tempat akad nikah dilangsungkan. Di hadapan jasad sang ayah yang menjadi sandaran hidupnya selama ini, Faiz menggenggam tangan wali nikah. Dengan suara yang terbata-bata dan bergetar menahan gejolak duka, ia mengucapkan kalimat kabul.

Begitu saksi menyatakan kata "Sah", tangis pun pecah. Pelukan hangat dari sang ibu serta orang tua mempelai wanita mengalirkan kekuatan di tengah duka yang menyayat hati. Faiz dan Kiki resmi menjadi sepasang suami istri, namun langkah awal rumah tangga mereka harus dimulai tanpa kehadiran fisik sang ayah tercinta.

Di tengah isak tangis yang menyelimuti prosesi ijab kabul, salah satu perwakilan keluarga besar memberikan penjelasan emosional mengenai keputusan berat untuk tidak menunda pernikahan sakral ini:

"Kami semua sangat terpukul, ini cobaan yang begitu berat bagi Faiz sebagai anak. Namun, keputusan untuk tetap melangsungkan akad nikah di hadapan jenazah adalah keputusan bersama keluarga demi menunaikan niat tulus almarhum. Semasa hidup, Almarhum Papa sangat menantikan hari bahagia ini. Menunda pernikahan ini justru akan terasa seperti menunda kebahagiaan yang sangat beliau impikan untuk putranya."

"Dengan melaksanakan akad di samping beliau, kami ingin Almarhum 'menyaksikan' langsung bahwa putra tunggalnya kini telah memiliki pendamping hidup yang akan menjaganya. Ini adalah bentuk baktinya yang terakhir kepada sang ayah sebelum dilepas ke peristirahatan abadi."


Pelepasan Sang Tokoh dan Lantunan Surah Al-Fajr


Begitu prosesi akad nikah yang sakral selesai, dekorasi bahagia langsung berganti sepenuhnya menjadi upacara pelepasan jenazah. Lantunan suci Al-Qur'an dari Surah Al-Fajr ayat 27–30 menggema, mengiringi kepergian almarhum:

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku.”

Ayat ini seolah menjadi penyejuk bagi keluarga yang ditinggalkan, menguatkan hati bahwa sang ayah telah pulang ke tempat terbaik di sisi Allah SWT.


Kehilangan Besar Bagi Sulawesi Utara


Kepergian Hi. Mahmud Turuis bukan hanya duka bagi Faiz dan Kiki, melainkan kehilangan besar bagi masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Kota Manado. Pria kelahiran Kepulauan Sangihe, 12 April 1967 ini dikenal sebagai sosok yang aktif, berintegritas, dan memiliki kepedulaan sosial yang tinggi.

Semasa hidupnya, almarhum mengemban berbagai posisi strategis dan amanah penting, di antaranya:

• Mantan Direksi Bank SulutGo (BSG)

• Ketua Syarikat Islam (SI) Sulawesi Utara

• Bendahara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Utara

• Ketua PBSI Kota Manado

Almarhum mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta pada Sabtu, 17 Oktober 2026 dalam usia 59 tahun. warga, kerabat, hingga kolega dari berbagai kalangan berbondong-bondong memadati rumah duka hingga mengantarkan jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan kebaikan almarhum semasa hidup.

Bagi Faiz dan Kiki, hari itu akan selalu tercatat dalam ingatan sebagai hari di mana sebuah janji suci diikat di bawah bayang-bayang perpisahan abadi. Sebuah pembuktian bahwa hidup harus terus berjalan, dan restu ayah akan selalu menyertai mereka dalam bentuk doa yang tak berwujud. 


(postman)