Header Ads

Wartawan Senior PDP Corona Meninggal Dunia

Iklan Bawaslu
Jurnal Manado - Seorang wartawan senior, pendiri sekaligus Pempred pertama Motor Plus, Willy Dreeskandar, meninggal karena Corona pada 26 Maret 2020. Kabar meninggalnya Willy pun menyisahkan rumor tak sedap. Ketika mendatangi rumah sakit rujukan di RSU Kabupaten Tangerang, dia sempat mengeluh tidak terlayani.

Saat itu kondisi kesehatannya sudah memburuk. Alhasil, Willay langsung mencari rumah sakit lain dan mendapat perawatan di rumah sakit swasta. Willy didiagnosa sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) virus Corona.


Sebelum meninggal, Willy juga sempat menuliskan pesan di akun Twitternya. Dia menyebutkan sudah tidak kuat dan memohon bantuan kepada Presiden Jokowi dan Menteri Kesehatan untuk dimudahkan ke rumah sakit rujukan Corona.

"Pak Jokowi & Dr Terawan. Smg Bpk2 sehat. Mhn bantuan RS rujukan. Smlm sy d RSUD Kab Tangerang, 5 jam tanpa tindakn. Sy tdk kuat. Skrg sy di Eka Jaya Hospital, BSD. Hrs blk lg k RSUD. Maaf mrepotkn. Trm ksh. Wass," tulis Willy, dikutip dari akun Twitternya.


Pihak RSU Kabupaten Tangerang pun angkat bicara. RS rujukan pasien Corona di Banten ini beralasan kebanjiran pasien Corona dan hanya memiliki ruang isolasi sebanyak 7 kamar.

Juru Bicara RSU Kabupaten Tangerang Mohamad Rifki mengatakan, Willy datang ke RSU pada Jumat 28 Maret 2020. Dia datang sebagai pasien rujukan dengan diagnosis Pneumonia, suspek viral infection Covid-19.



"Dia datang ke IGD. Pasien diterima dan telah ditangani di ruang transit khusus PDP oleh dokter jaga IGD. Kondisi pasien sadar penuh dan hemodinamik stabil," kata Rifki, saat dikonfirmasi SINDOnews, Sabtu (28/3/2020).

Setelah itu, pasien dikonsultasikan ke dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis paru. Hasil konsultasi dari kedua dokter itu pasien terindikasi PDP Corona dan harus diisolasi.

"Pasien sudah diedukasi untuk menunggu petugas menyiapkan ruang isolasi tempat pasien akan dirawat. Tetapi pada saat ruang rawat inap isolasi sudah siap, jam 22.45 WIB, pasien sudah tidak ada di tempat," jelasnya.

Kemudian, petugas RSU menghubungi pasien melalui telepon dan tersambung lalu menyarankannya agar pasien kembali ke RSU Kabupaten Tangerang. Tetapi pasien tidak kembali, karena sudah dirawat di RS swasta.

Hingga akhirnya, Willy dikabarkan meninggal dunia. Pihak RSU pun membantah tidak melayani pasien dengan maksimal. Sebab, saat kejadian ruang isolasi sedang penuh.

"Ruang isolasi kami saat itu penuh. Jadi kami menyiapkan ruang tambahan, yang tentunya harus disiapkan dengan baik agar sesuai standar. Di ruang isolasi, nanti dilakukan swab, dan pemeriksaan PCR," sebut Rifki.

Melalui pemeriksaan Swab dan PCR itu, baru diketahui positif atau negatifnya pasien tertular virus Corona. Willy sendiri meninggal saat didiagnosa telah PDP wabah Corona.(sindonews/jurnalmanado)

Diberdayakan oleh Blogger.