Iklan

February 24, 2026, 06:44 WIB
Last Updated 2026-02-24T14:44:53Z
Politik

Hendry Walukow Sebut, YSK-Victory Bapak Pertambangan Rakyat


 
JurnalManado - Ketika Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rancangan peraturan daerah (Ranperda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)  Hendry Walukow SE menyampaikan laporan Pansus DPRD Sulut Ranperda tentang Rencana Tata Ruang Wilayah RTRW Tahun 2025 – 2044.

Berdiri diatas podium menyebutkan sekaligus mengusulkan  Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn)  Yulius Selvanus SE dan Wakil Gubernur J Victor Mailangkay SH MH dianugerahkan gelar sebagai Bapak Pertambangan Rakyat.

Hal ini disambut positif kedua pimimpin daerah Sulut dan hadirin yang hadir saat anggota Komisi 1 ini menyampaikan usulan tersebut.

“Semua ini menujukan  kerja tulus dan luar biasa ini, saya Henry Walukow SE mengusulkan bahwa sangat layak bagi Gubernur dan Wakil Gubernur untuk dianugerahkan gelar Bapak Pertambangan Rakyat,” tegas Walukow disambut antusias oleh seluruh hadirin yang hadir.

Anggota dewan Sulut dua periode itu, menilai duet kepemimpinan YSK – Victory tersebut telah menunjukkan keberpihakan yang nyata terhadap rakyat kecil melalui kebijakan strategis dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

“Ini adalah buah dari kerja tulus dan luar biasa. Melalui kebijakan dan lobi yang tepat, kita berhasil mengamankan masa depan sektor pertambangan rakyat di Sulut,”ucapnya

Lanjut Hendry, melalui lobi pusat dari pak Gubernur dan Wakil Gubernur membuahkan hasil dalam struktur RTRW yang baru. Dimana, pemerintah telah mengakomodir 232 blok Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR).

“Hal ini menjadi kunci pembuka legalitas pertambangan untuk 20 tahun ke depan.

Berkat lobi dan kerja keras pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur, Pemerintah Pusat kini telah menyetujui 62 blok yang memenuhi syarat untuk

untuk beberapa tahun kedepan untuk dijadikan wilayah pertambangan rakyat,”jelas legislator yang dikenal vocal dalam memperjuangkan aspirasi penambang rakyat itu.

Dirinya menjelaskan bahwa kebijakan ini akan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat, terutama bagi 12.000 penambang lokal yang selama ini menggantungkan hidup di sektor tersebut.

“Dampak ekonomi ini diprediksi akan menciptakan multiplier effect bagi sektor lainnya, seperti transportasi jasa ojek, pasar-pasar lokal dan warung rakyat serta pertumbuhan usaha rumah makan di sekitar wilayah pertambangan,”tutupnya (tino)