Iklan

May 22, 2026, 08:22 WIB
Last Updated 2026-05-22T15:44:20Z
DinamikaEkonomiManadoPemerintahanPendidikanUtama

Puji Kinerja Gubernur Yulius, Fadly Zone Bakal Usulkan DAK Untuk Kebudayaan Sulut




Jurnal Manado  - Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dinilai menjadi salah satu museum tingkat provinsi terbaik di Indonesia berkat tata kelola yang rapi dan penyajian narasi sejarah yang kuat. Pemerintah pusat mengapresiasi komitmen pemerintah daerah dalam merevitalisasi cagar budaya ini dan berencana mengucurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) non-fisik pada tahun anggaran 2026 sebagai stimulus pengembangan. Demikian disampaikan Menteri Kebudayaan Fadly Zone saat meninjau langsung kompleks museum di Kota Manado. 


Menurutnya, penataan lini masa museum mulai dari periode prasejarah hingga etnografi sudah dilakukan dengan benar sehingga mampu menghadirkan alur cerita (storytelling) yang hidup bagi pengunjung.

"Saya sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya, Pak Gubernur sangat peduli untuk memajukan kebudayaan nasional, khususnya kebudayaan di Sulawesi Utara. Ini harus menjadi contoh bagi pimpinan daerah lain," ujar Fadly saat memberikan keterangan pers di sela-sela kunjungan.

Fadly menambahkan, museum ini memiliki pengelompokan koleksi yang sangat beragam, termasuk ruang senjata kolonial dan numismatik. Keunikan tiga wilayah budaya di Sulawesi Utara juga tergambar jelas, salah satunya melalui keberadaan replika waruga atau makam leluhur khas Minahasa.

Ke depan, museum ini diharapkan tidak hanya mengandalkan buku teks untuk mengedukasi masyarakat, melainkan menjadi pusat pendidikan inklusif melalui konsep visual langsung. "Seeing is believing. Siswa dan mahasiswa akan lebih senang belajar jika museum tertata rapi, informasinya lengkap, dan narasinya kuat," jelasnya. 


Untuk mengoptimalkan pengelolaan ke depan, Kementerian Kebudayaan mendorong penerapan skema kemitraan pemerintah dan swasta (public-private partnership). Skema ini diharapkan mampu menjaring keterlibatan para filantropis, komunitas pencinta seni, hingga sukarelawan melalui wadah Sahabat Museum.

Selain itu, ekosistem ekonomi kreatif di sekitar museum perlu dihidupkan melalui komersialisasi Kekayaan Intelektual atau Intellectual Property (IP) dari koleksi-koleksi ikonik lokal. 

Pengembangan produk turunan seperti kaos, cangkir, boneka, hingga miniatur dinilai dapat menjadi sumber pendapatan baru sekaligus daya tarik wisata kuliner, busana, dan sastra setempat.

Terkait dukungan anggaran, Menteri memastikan pemerintah pusat akan mengajukan usulan DAK non-fisik untuk tahun 2026 guna mendukung berbagai aktivasi kegiatan kebudayaan yang sempat vakum.

"Kami akan ajukan untuk mendapatkan Dana Alokasi Khusus kegiatan non-fisik di museum ini. Kisaran anggarannya biasanya Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar per tahun tergantung penilaian nanti. Ini penting sebagai stimulus kegiatan," pungkas Fadly. 

(postman)