Iklan

1 Juli 2026, 20:55 WIB
Last Updated 2026-07-02T03:55:55Z
PariwisataUtama

Pariwisata Sulawesi Utara: Dari Mengejar Angka Menuju Menciptakan Nilai Tambah

 Oleh: Dr. Harley Mangindaan

Wakil Ketua ISEI Cabang Manado



Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara pada Mei 2026 menunjukkan tren positif sektor pariwisata. Kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 8.952 orang, perjalanan wisatawan nusantara menembus 1,23 juta perjalanan, sementara Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang meningkat menjadi 45,95 persen. Indikator tersebut mencerminkan pulih dan bertumbuhnya aktivitas pariwisata di daerah.


Meski demikian, keberhasilan pembangunan pariwisata tidak seharusnya diukur semata dari banyaknya wisatawan yang datang. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah sejauh mana pertumbuhan tersebut menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat, memperkuat ekonomi lokal, menjaga kelestarian lingkungan, dan mempertahankan identitas budaya Sulawesi Utara.


Pandangan tersebut sejalan dengan temuan dalam disertasi saya, "Kajian Pengembangan Pariwisata di Sulawesi Utara Ditinjau dari Perspektif Geotourism yang Holistik." Konsep geotourism menempatkan pariwisata sebagai instrumen pembangunan yang menjaga karakter geografis suatu wilayah, mencakup bentang alam, warisan budaya, sejarah, kehidupan masyarakat, hingga manfaat ekonomi yang berkelanjutan.


Sulawesi Utara memiliki modal yang sangat kuat untuk mengembangkan pendekatan tersebut. Taman Nasional Bunaken, Gunung Lokon, Danau Tondano, Gunung Mahawu, Pulau Lembeh, Kepulauan Sangihe dan Talaud, serta kawasan geopark merupakan aset geowisata yang memiliki daya tarik internasional. Kekayaan alam tersebut semakin bernilai ketika dipadukan dengan budaya Minahasa, Bolaang Mongondow, Nusa Utara, serta keragaman kuliner yang menjadi identitas daerah.


Data BPS juga menunjukkan hampir separuh wisatawan mancanegara yang datang berasal dari Tiongkok. Kondisi ini membuka peluang besar, namun sekaligus menjadi pengingat pentingnya diversifikasi pasar. Penguatan promosi ke Korea Selatan, Jepang, Australia, negara-negara ASEAN, hingga Eropa perlu terus dilakukan agar industri pariwisata tidak bergantung pada satu sumber pasar.


Dalam perspektif ekonomi regional, pariwisata memiliki efek berganda yang luas. Belanja wisatawan tidak hanya menghidupkan sektor perhotelan, tetapi juga mendorong transportasi, restoran, UMKM, industri kreatif, pertanian, perikanan, hingga ekonomi digital. Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan pariwisata semestinya bergeser dari sekadar peningkatan jumlah kunjungan menuju besarnya nilai tambah yang dinikmati masyarakat lokal.


Transformasi tersebut memerlukan beberapa langkah strategis, yaitu memperkuat destinasi berbasis geowisata dan ekowisata, meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata, memperluas promosi digital ke pasar internasional yang lebih beragam, memperkuat posisi UMKM dalam rantai nilai industri pariwisata, serta memastikan pengelolaan destinasi yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.


Sebagai Wakil Ketua ISEI Cabang Manado, saya meyakini bahwa masa depan pariwisata Sulawesi Utara harus dibangun melalui kebijakan yang berbasis data, didukung riset yang kuat, serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Sinergi tersebut menjadi fondasi untuk mewujudkan pariwisata yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.


Momentum yang tergambar dalam data BPS hendaknya tidak berhenti sebagai capaian statistik. Lebih dari itu, momentum ini harus menjadi titik awal transformasi menuju pariwisata yang berkualitas, mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjaga kelestarian alam dan budaya, serta mengukuhkan Sulawesi Utara sebagai destinasi unggulan di tingkat nasional maupun global.


Dr. Joy Elly Tulung, S.E., M.Sc.

Ketua ISEI Cabang Manado


Catatan yang disampaikan Dr. Harley Mangindaan memberikan perspektif yang sangat relevan mengenai arah pembangunan pariwisata Sulawesi Utara. Keberhasilan sektor ini tidak lagi cukup diukur dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, melainkan dari besarnya nilai tambah ekonomi yang mampu dirasakan masyarakat.


Pariwisata harus menjadi penggerak ekonomi daerah yang memberikan dampak nyata melalui peningkatan lama tinggal dan pengeluaran wisatawan, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, serta berkembangnya sektor pertanian, perikanan, kuliner, transportasi, dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, manfaat ekonomi tidak hanya terpusat di destinasi wisata, tetapi juga menyebar hingga ke masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.


Konsep geotourism yang holistik sebagaimana dikemukakan Dr. Harley Mangindaan sangat sesuai dengan karakteristik Sulawesi Utara yang memiliki kekayaan bentang alam, budaya, sejarah, dan keragaman sosial. Namun, implementasinya memerlukan dukungan yang kuat melalui peningkatan konektivitas antardestinasi, pengembangan sumber daya manusia yang kompetitif, diversifikasi pasar wisatawan, transformasi digital, serta komitmen menjaga kelestarian lingkungan sebagai modal utama pembangunan jangka panjang.


ISEI Cabang Manado memandang bahwa momentum pertumbuhan sektor pariwisata saat ini harus dimanfaatkan untuk melakukan transformasi kebijakan. Orientasi pembangunan perlu bergeser dari sekadar mengejar jumlah kunjungan menuju pengembangan pariwisata yang berkualitas, bernilai tambah tinggi, inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, pariwisata diharapkan mampu menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing daerah di tingkat nasional maupun internasional.