Jurnal Jakarta – Dalam panggung bulu tangkis dunia, nama Hendra Setiawan bukan sekadar deretan huruf di papan skor. Ia adalah definisi hidup dari konsistensi, ketenangan, dan kelas dunia yang sesungguhnya.
Pemain yang dijuluki "The Professor" ini mengukuhkan dirinya sebagai salah satu legenda ganda putra terbaik sepanjang masa dengan koleksi empat gelar Juara Dunia BWF.
Hal yang membuat capaian ini begitu magis adalah kemampuan luar biasa Hendra untuk berdiri di podium tertinggi bersama dua pasangan yang berbeda. Sebuah bukti sahih betapa adaptif dan visionernya seorang Hendra Setiawan di atas lapangan.
Mari kita kilas balik empat momen emas yang melahirkan tinta emas sejarah sang maestro:
1. Fajar Baru Bersama Markis Kido (Kuala Lumpur, (2007)
Langkah pertama Hendra menuju takhta dunia dimulai di Malaysia. Berpasangan dengan almarhum Markis Kido, duet maut ini sukses menghancurkan tembok pertahanan ganda muda masa depan Korea Selatan, Lee Yong-dae/Jung Jae-sung.Kemenangan dua gim langsung di Kuala Lumpur ini tidak hanya membuahkan gelar juara dunia pertama bagi Hendra, tetapi juga menjadi batu loncatan krusial sebelum akhirnya mereka merebut medali emas Olimpiade Beijing satu tahun kemudian.
2. Debut Fenomenal 'The Daddies' (Guangzhou, 2013)
Pasca-era Kido, banyak yang meragukan apakah Hendra bisa kembali ke level tertinggi. Jawabannya lahir saat ia dipasangkan dengan Mohammad Ahsan. Hanya butuh waktu singkat bagi duet yang kelak dijuluki The Daddies ini untuk mengguncang dunia.
Datang sebagai pasangan baru di Kejuaraan Dunia 2013, mereka langsung tampil mendominasi. Ganda veteran Denmark, Mathias Boe/Carsten Mogensen, dibuat tidak berdaya di partai final dengan skor telak 21-13 dan 23-21. Indonesia resmi memiliki monster ganda putra yang baru.
3. Sihir Istora Senayan (Jakarta, 2015)
Tidak ada yang lebih indah daripada merayakan gelar juara di rumah sendiri. Atmosfer bergemuruh Istora Senayan membakar semangat Hendra/Ahsan pada edisi 2015.Tampil solid sejak babak pertama, The Daddies klimaks di partai puncak dengan meredam perlawanan wakil China, Liu Xiaolong/Qiu Zihan. Kemenangan dua gim langsung di depan publik sendiri ini mengunci gelar juara dunia ketiga bagi Hendra, sekaligus menegaskan dominasi mereka di peta persaingan global.
4. Konser Epik Sang Jompo yang Menolak Habis (Basel, 2019)
Jika ada gelar yang paling emosional, Swiss 2019 adalah jawabannya. Di usia yang sudah berkepala tiga—masa di mana banyak atlet memilih gantung raket—Hendra/Ahsan justru mempertontonkan simfoni mental juara yang belum habis.Melalui drama rubber game yang menguras fisik dan menguji jantung pencinta bulu tangkis tanah air, mereka menyudahi perlawanan ganda muda Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, dengan skor ketat 25-23, 9-21, dan 21-15.
Gelar keempat untuk Hendra Setiawan resmi digenggam.
Empat gelar, dua pasangan berbeda, dan rentang waktu dominasi yang membentang lebih dari satu dekade.
Hendra Setiawan telah membuktikan bahwa kecepatan bisa melambat seiring usia, namun kecerdasan dan mental juara adalah sesuatu yang abadi.
(*jmg)