Jurnal Sport – Jika Anda merindukan era di mana tunggal putra Indonesia mendominasi podium dunia, maka Anda sedang merindukan buah tangan dingin dari satu nama: Tong Sin Fu.
Pria kelahiran Lampung tahun 1942 yang akrab disapa Koh Tong (atau Fuad Nurhadi) ini adalah arsitek utama di balik kedigdayaan bulutangkis tanah air pada dekade 90-an.
Bukan sekadar pelatih, bagi legenda sekelas Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, Hariyanto Arbi, hingga Hendrawan, Koh Tong adalah sosok "monster" disiplin sekaligus bapak yang merubah total standar Pelatnas Cipayung sejak kedatangannya dari China pada tahun 1986.
Aturan Besi 30 Menit dan Pintu Keluar Cipayung
Bagi Koh Tong, waktu adalah hal sakral yang tidak bisa ditawar. Kedisplinannya yang ekstrem kerap membuat para atlet bintang merinding.
"Kalau jadwal latihan jam 08:00 pagi, Om Tong itu sudah berdiri di lapangan dari jam 07:30!" kenang peraih emas Olimpiade Barcelona, Alan Budikusuma.
Tidak ada pengecualian bagi siapapun, termasuk pemain bintang. Hukuman bagi yang melanggar sangat instan dan tanpa ampun.
"Kami terlambat 1 menit saja, Om Tong langsung menunjuk pintu keluar dan menyuruh kami pulang! Enggak ada ampun," tambah Hendrawan mengingat ketatnya atmosfer latihan kala itu.
"Sihir 3 Bulan" dan Taktik Modern Sebelum Waktunya
Kejeniusan Koh Tong terletak pada pendekatannya yang personal. Ia menolak metode "one size fits all" atau satu menu latihan untuk semua pemain. Juara All England, Hariyanto Arbi, membongkar bagaimana detailnya sang pelatih membaca kebutuhan atlet.
"Om Tong itu pelatih yang sangat detail. Dia mengasih porsi latihan Alan, Ardy, dan saya itu beda-beda semua. Disesuaikan persis dengan kelemahan fisik masing-masing pemain," ujar pemilik pukulan Smash 100 Watt tersebut.
Jauh sebelum analisis video digital menjadi tren di era modern, Koh Tong sudah mewajibkan anak asuhnya untuk "melek taktik". Ia kerap mengumpulkan para pemain untuk menonton rekaman kaset video pertandingan, memaksa mereka mengevaluasi permainan sendiri maupun lawan secara kritis.
Selain itu, Koh Tong dikenal memiliki intuisi yang presisi. Alan Budikusuma menceritakan setiap kali atlet mengeluh karena latihan fisik baru yang menyiksa tidak langsung terasa efeknya, Koh Tong hanya akan tersenyum misterius.
"Lakukan saja. Latihan yang kamu jalankan hari ini, hasilnya baru akan kamu panen 3 bulan dari sekarang," tiru Alan. "Dan gilanya... ucapan Om Tong itu selalu terbukti benar!"
Air Mata untuk Sang Arsitek Berjantung Lemah
Puncak dari "Sihir Taktik" Koh Tong meledak di Olimpiade Barcelona 1992, saat ia mengantar Alan Budikusuma merengkuh Medali Emas tunggal putra pertama dalam sejarah Indonesia. Tak berhenti di sana, saat digeser melatih sektor putri, tangan dinginnya sukses membawa Susy Susanti dan kolega merebut Piala Uber dua kali berturut-turut pada tahun 1994 dan 1996.
Namun, di balik semua ketegasan dan porsi latihan luar biasa tersebut, ada rahasia menyayat hati yang membuat para anak didiknya menangis haru jika mengingatnya. Koh Tong menggembleng para juara dunia tersebut dalam keterbatasan fisik yang luar biasa: ia hanya hidup dengan satu ginjal sejak muda dan mengidap masalah jantung serius.
"Bayangkan, dengan usia setua itu dan penyakit yang ia bawa, ia masih kuat berdiri dan duduk mendampingi kami bertarung di lapangan," ucap Alan dengan nada bergetar.
Hingga kini, ada satu wejangan Koh Tong yang tertanam abadi di dada Alan Budikusuma sebelum ia memuncak di panggung dunia: "Alan, ingat ini. Jangan pernah sombong. Karena kesombongan adalah awal dari kehancuran seorang atlet."
Hari ini, sejarah mencatat bahwa kejayaan tunggal putra Indonesia tidak dibangun dalam semalam. Ia dirajut lewat kedisiplinan tanpa kompromi, kejeniusan taktik, dan pengorbanan fisik luar biasa dari sang Arsitek legendaris, Koh Tong Sin Fu.
(*jmc)
